Arsip untuk September 8th, 2006

h1

buas, panas, menyiksa, tapi nikmat!

September 8, 2006

tante melani adalah magma disaat diamuk nafsunya sendiri. didukinya mukaku lalu dia gosokkan kewanitaannya ke wajahku. hidung dan mulutku tergilas kemaluan lembab. beberapa helai jembutnya rontok.

sambil meremas sususnya sendiri dia memutar dan mau mundurkan pinggul, menghajar wajahku. dia meracau, sebut “kontolmu jelek tapi enak sayang, aku suka”. dia terus bergerak sampai basah keringat lalu bilang “tititmu ganteng tapi kamunya jahat”.

dia terus menduduki mukaku. wajahku menjadi keset memek. aku gelagapan. kehabisan napas. aku tersedak oleh aliran lendir vaginanya.

kemaluannya makin kuyup. teriakannya makin ngawur. semakin licin saja wajahku oleh gesekan nafsunya.

“ayohhh anak nakal! kocok tititmu! kocokkkkk! aku bilang ko-cok! kocok! tau nggak? ayooooohhh…. kontol jelek! kocok! ayohhhh kontol keren! kocok!”

gerakannya kian liar. tiba-tiba cairan menyembur dari liangnya. aku mengocok pelan burungku. tapi dia minta aku mengocok lebih kencang dan kencang.

tiba-tiba dia angkat tubuh. balik badan. menindihku. secara pintar dia langsung bisa mengepaskan posisi sehingga batang tegakku langsung penetrasi.

napasnya memburu. rambutnya kusut. tapi dia tampak semakin cantik alami. dia menyetubuhi dengan liar. umpatkan semua kata terlarang. aku terangsang oleh leher jenjangnya yang berkilat peluh. oleh susu kenyalnya yang mengayun kanan kiri. kuremas susu itu. kutarik putingnya. dia mengaduh.

“buka mulutmu handsome! open your mouth, right now! ayooohhhh…” dia terus bergorak memompa tubuhku dalam tindihannya.

kubuka mulutku. dia meludahi mulutku. tiga kali. lalu mengulum bibirku. kejalangan yang jorok, mulanya aku tak suka, akhirnya bisa menikmati juga. kukunya mencakar bahku. aku tahu beberapa detik lagi dia mencapai orgasme totalnya…

h1

nyeri bercampur nikmat

September 8, 2006

aku bukan masochist. atau barangkali bibit kecil itu ada lantas tante melani mengembangkannya. ah entahlah. aku tak suka kesakitan. aku tak suka derita tubuh dan jiwa. tapi, ah… tante melani berikan pengalaman lain untukku. mulanya aku menderita tapi akhirnya bisa toleransi bahkan menikmati.

kali ini lain. bukan aku diminta ceboki mekinya sehabis pipis dengan jilatan. bukan itu. tante melani dalam gairah nafsunya yang kesetanan terus minum air putih. mulutku disumpal celana dalamnya yang basah berlendir. tanganku diminta ngocok pelan burungku.

lalu dia tarik tubuh telanjangku ke kamar mandi. bukan diajak mandi di shower tray berpagar kaca. di lantai kering itu aku direbahkan. celana dalam dia renggut dari mulutku. dia mengangkang di atas tubuhku.. rendahkan tubuh dengan tekuk lutut sedikit lalu currrr dia mengencingi tubuhku sambil tertawa-tawa ucapkan semua kata terlarang. setelah itu dia duduki wajahku agar aku mencoboki mekinya.

terbesit rasa cemas apakah dia gila karena foreplaynya kadang aneh tak terduga. ah entahlah. dalam pesing lengket di tubuh, beralaskan handuk di lantai, dia menyetubuhiku…

seperti biasa memakiku atau menyumpahi kemaluanku di saat orgasme demi orgasme dia raih.

aku agak menderita. tapi juga nikmat. bergairah tapi juga bingung dan kasihan. biasanya setelah badai berahi reda dia menjadi lembut, menangis tersedu minta maaf padaku, persilakan aku membalasnya dengan kekerasan dan penghinaan tapi tak pernah kulakukan karena aku sudah terlalu lelah pegal dan kehabisan nafsu