h1

ketika puncak tiba

September 12, 2006

aku dan tante nie saling mendengar dan merasakan degup masing-masing, napas masing-masing.

bahkan dalam gerakan lembut saat aku menindihnya kami sama-sama mendengar bunyi kelecek vagina basah terpompa titit.

lalu tibalah puncak itu. semakin erat kami bergenggaman tangan. tubuhnya kaku mengejang, napasnya berhenti, matanya terbelalak. hari itu dia tidak subur. dibiarkannya sesuatu yang menyusul dariku memancar, menggenangi liang kewanitannya. semburan panas membuatnya mengejang lagi. kakinya merapat tak biarkan aku terlepas dari tubuhnya.

kukecup keningnya. kami saling berbisik terima kasih. aku tetap menindih. jepitan kakinya belum terurai. dia ingin semuanya memancar keluar, mengisi rongga senggama tubuhnya, bercampur dengan banjiran kewanitaanya, sampai tumpah membasahi seprei.

tubuh kami sama-sama kuyup oleh peluh. aku menyukai bau tubuhnya. bau ketiaknya yang mengkilap licin bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: