h1

subur tak subur

September 12, 2006

mendaki. sama-sama mendaki. ada kalanya tante wiwi mengejar. aku diminta menahan diri. ada kalanya aku yang memacu diri, kerahkan semua indera dan fantasi. kami bercakap mesra. kadang tak ingat apa yang kami lontarkan. kami hanya ingat sedang berjuang bersama untuk menggapai puncak. semakin dekat ke puncak akal sehat tak bisa jernih memilah.

napas memburu. peluh membanjir. aku dan dia. sama-sama kuyup. sesuatu yang tak dapat direm, tapi juga tak dapat dipacu, mulai terasa temukan jalan sendiri. andaikan ada bom kami takkan peduli.

tapi aku ingat sesuatu. “tante subur?” bisikku. dia tak mendengar. atau tak peduli. kukecup keningnya di tengah pendakian. aku terengah, “subur?”

dia terpejam lalu terbelalak. tak menjawab. aku gunakan kesempatan terakhir selagi bisa kendalikan diri di tengah pacuan nafsu, dalam jepitan kakinya pada tubuhku: “su… bur..?”

tiada jawaban. dia kembali terpejam. peluhnya membanjir. tubuhnya makin licin. aku tak tahu apa yang terjadi. sepertinya aku tersedot dalam pusaran nikmat. ingin aku bertanya lagi tapi hanya bisa terucap “tante sayang, tante, tante!”

teringat saat berkemah. tancapkan pasak menyerong agar tali tenda terentang kencang. pasak melesak ke dalam. pol. hingga menyentuh ujung lorong. ada jepitan kuat. sedotan dahsyat. bendungan bobol. memancar lahar panas merapi. kencang. dia menjerit tertahan. saat yang sama klimaksnya teraih. bendera berkibar di puncak bukit nafsu. aku mengejang. dia juga. kami tersengal. peluhku menetes dari kening ke pipinya.

kami biarkan badai mereda. akhirnya tinggal semilir angin yang tak kuat untuk terbangkan daun kering. genggaman tangan kami memudar. jari terurai. “terima kasih tante sayang,” kukecup keningnya. lalu pipinya. lalu bibirnya.

dia tersenyum. ada binar bahagia di matanya. dia mencium bibirku. lekat. kuat. terasa sesuatu yang tadi menyemprot dan menggenang akhirnya tak tertampung oleh ruang. menerobos keluar. lengket. jepitan pahanya mengendor.

“tante lagi subur kan?” tanyaku. dia terbelalak. “kamu nakal!” katanya.

“subur nggak sih?” tanyaku lagi.

“nggak. nggak sih. mesrtinya nggak sayang…”

“yakin, tante?”

“ahhh kamu nakal. ya, aku subur kayaknya.”

“kalo jadi gimana?”

“ah kamu. nakal!” dia mencubitku.

“tadi aku udah nanya lebih dari sekali. kalo tau subur kan bisa aku cabut tante. muncrat di luar. atau di atas…”

“aku gak denger. lagi konsen, tau. uh, atas mana?”

“mulutnya tente. kayak yang terakhir itu. tuntas tandas, semuanya terperas tertelan.”

dia menciumku. menatapku mesra. “ihhh kamu…” bisiknya.

nanti sehabis mandi aku segera ke apotek di ujung sana. beli tester karena stok habis.🙂

4 komentar

  1. dasar gigolo! ngaku aja kalo loe gigolo gak usah sok suci


  2. ini orang emang gigolo sejati yang tahu apa kebutuhan wanita.

    tapi apa enaknya sih main sama stw?

    buatku sih lebih enak wanita sebaya dan lebih enak lagi wanita yang lebih muda soalnya tubuh mereka masih bagus, susunya padat, puting belon jadi gede gelap, perutnya belon kendor, bau mulutnya masih enak, bau keteknya juga, and last but not least krn masih muda “itunya” juga masih peret, ngempot, njepit, pokoknya kagak kedodoran gitulah


  3. cihuuyyy !!! golda yang mana neh kok nyampe sini ? apa golda yang ini ? suka baca ginian juga neng ???? lagi belajar yach ???😀

    *kabur mode on *


  4. Ahhhh!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: